火曜日, 10月 13, 2009

mengenal Allah

ada sebuah riwayat menarik mengenai seorang murid dan mursyidnya yang setiap dku baca selalu menambah imanku -insyaAllah-

"Pada suatu zaman ada seorang salik yang belajar dan berbakti kepada seorang guru pembimbing rohani. Sykh Hanafy nama guru pembimbing tersebut. Suatu hari syekh Hanafy bermaksud mengajak muridnya tersebut berjalan-jalan keluar dari tempat kediamannya. Sampailah mereka berdua pada tepian suatu sungai yang airnya deras mengalir. Maksud sang guru adalah menyebverangi sungai tersebut, padahal disitu tidak ada sarana untuk menyeberang, baik jembatan maupun perahu.

Sang guru, syekh Hanafy yang memang sudah mapan deraja rohaninya tidak merasa bingung tentang bagaimana caranya agar bisa segera menyeberangi sungai. Serta merta beliau berjalan dihamparan sungai layaknya berjalan biasanya di daratan, tanpa basah maupun terseret arus air dengan pertolongan Allah SWT. Berbeda dengan sang murid yang memang masih dalam tahap belajar, dia tidak mampu melakukan apa yang dilakukan oelh gurunya. Hal ini memang karena memang taraf kemapanan derajat rohaninya yang belum sempurna. Akhirnya si murid tidak mampu mengikuti gurunya menyeberangi sungai tanpa alat penyeberangan. Dia terdiam, hanya mampu memandang jalannya sang guru.

Melihat gelagat yang demikian sang guru turun tangan memberikan solusi bagi muridnya sekaligus menyampaikan pelajaran hikmah yang sangat agung bagi si murid. Disuruhnya muridnya memijakkan kakinya di hamparan aliran sungai dengan terus menerus menyebut nama gurunya. Ya Hanafy, Ya Hanafy, terus menerus si murid dengan mantap dan yakin mengucapkan kata tersebut dan dengan kuasa Allah SWT dia dapat berjalan diatas air sebagaimana gurunya.

Sesampainya di tengah-tengah sungai, si murid bertanya-tanya dalam pikirnya, emngapa dia tidak menyebut Ya Allah, Ya Allah dan memohon pertolongan secara langsung kepada-Nya, mengapa pula dia harus menyebut-nyebut nama gurunya, syekh Hanafy ? . Saat keraguan telah menyerang keyakinan si murid tersebut, saat itu pula dia tenggelam, hanyut dalam arus air. Melihat muridnya tenggelam sang guru menolong dan akhirnya selamatlah si murid sampai tepian seberang sungai.

Akhirnya syekh Hanafy menerangkan pada si murid tentang rahasia yang basu saja terjadi. syekh Hanafy memang tidak memerintahkan kepada muridnya untuk menyebut Ya Allah saat akan menyeberang, hal ini karenga sang murid memang belum mengenal Allah SWT, belum mengetahui secara benar. Disuruhnya sang murid hanya menyebut-nyebut Ya Hanafy , karena beliaulah yang sudah mengenal Allah SWT. Dan saat disebut namanya, beliaulah yang memintakan kepada Allah untuk keselamatan si murid dalam menyeberangi sungai. Namun saat si murid merasa benar menurut akal pikirnya sendiri dengan menyebut Ya Allah, saat itu sang guru melepas doanya kepada Allah SWT sehingga tenggelamlah si murid karenanya
.

Apa makna dari riwayat tersebut? kurang lebih mengandung pelajaran akan pentingnya seorang murid memiliki ikatan lahir batin dengan guru mursyidnya, tidak hanya untuk keselamatan jasmani si murid, tetapi yang lebih penting adalah untuk kesentausaan rohani sang murid. Atau secara umum dalam menghayati ilmu agama akan lebih afdol apabila dengan bimbingan seorang guru yang kita yakini. Pengen tau lebih lanjut? monggo hadir di manakiban Pondok Pesantren Suryabuana di Mbalak Jawa Tengah. Semoga kita termasuk dalam golongan yang diberi petunjuk oleh Allah swt. amien..

0 件のコメント: